Masa Depan E-Commerce Indonesia 2026: Saat Brand Keluar dari Marketplace & COD Jadi Kunci Konversi

E-commerce Indonesia sedang memasuki fase baru. Dominasi marketplace mulai mengalami saturasi, sementara brand dan enterprise mulai beralih ke kanal non-marketplace seperti website sendiri (D2C), social commerce, dan conversational commerce.
Data terbaru menunjukkan bahwa:
- Nilai pasar non-marketplace diproyeksikan mencapai Rp 98,7 triliun pada 2026
- Dengan pertumbuhan CAGR 17,4% (2022–2026)
Namun di balik transformasi ini, terdapat satu elemen yang tetap konsisten: COD (Cash on Delivery) masih menjadi pendorong utama konversi, terutama di fase akuisisi pelanggan.
Pergeseran Besar: Dari Marketplace ke Direct-to-Consumer
Selama satu dekade terakhir, marketplace menjadi pusat e-commerce Indonesia. Namun kini, terjadi pergeseran signifikan:
a. Ledakan Ekosistem Non-Marketplace

Menurut riset terbaru:
- 2022: Rp 52 triliun
- 2023: Rp 58,5 triliun
- 2024: Rp 68,3 triliun
- 2025: Rp 80,7 triliun
- 2026: Rp 98,7 triliun
b. Komposisi Kanal Penjualan
Breakdown GMV non-marketplace (2024):
- Social commerce: 42%
- D2C (Brand.com): 35%
- Live commerce: 15%
- B2B e-commerce: 8%
Social commerce kini menjadi channel terbesar, bukan lagi marketplace.
Mengapa Brand Mulai Keluar dari Marketplace?

a. Tekanan Margin & Biaya Platform
- Biaya admin marketplace mencapai 5–15% per transaksi
- Bagi brand: Margin ini lebih baik dialihkan ke marketing & product innovation.
b. Kepemilikan Data Pelanggan (Data Ownership)
Marketplace:
- Data milik platform
D2C, Brand memiliki:
- Nomor HP
- Behavioral data
Ini krusial untuk:
- Retargeting
- CRM
- Lifetime Value (LTV)
c. Kontrol Brand Experience
Marketplace:
- Price-driven competition
D2C:
- Storytelling
- Premium positioning
- Brand equity
Perpindahan ke non-marketplace bukan tren, ini adalah strategic shift menuju profitabilitas dan kontrol bisnis.
Namun Ada Tantangan Besar: Trust & Conversion

Berbeda dengan marketplace, non-marketplace tidak memiliki:
- Escrow system
- Built-in trust layer
Akibatnya: Conversion menjadi bottleneck utama.
Di sinilah COD menjadi krusial. Dalam ekosistem non-marketplace:
- COD menjadi salah satu metode pembayaran dengan dominasi tinggi
- Terutama pada: Social commerce (WhatsApp, Instagram)
- First-time buyer
COD: Jembatan Trust di Era D2C & Social Commerce
Data industri menunjukkan:
- 90% transaksi COD berasal dari first-time buyer
- COD tumbuh 28% YoY di luar marketplace, terutama di kota tier 2–3
Ditambah dengan data bahwa:
- COD mendominasi hingga 74%+ transaksi e-commerce (BPS/Katadata)
- 56% konsumen Indonesia memilih COD (Nielsen)
COD bukan sekadar metode pembayaran, tapi: “Trust engine” untuk customer acquisition
Dinamika Metode Pembayaran di Non-Marketplace
Dalam ekosistem baru ini, metode dominan:
- Transfer bank (tinggi)
- QRIS & e-wallet (tinggi)
- Payment link (sedang)
- COD (tinggi)
Namun yang menarik, COD memiliki fungsi unik yang tidak dimiliki metode lain:
- Mengurangi perceived risk
- Mengatasi trust barrier
- Meningkatkan conversion
Kenapa COD Justru Semakin Penting
Social Commerce Dominance
- WhatsApp & Instagram menjadi channel utama
- Funnel lebih cepat, tapi trust lebih rendah
- COD = closing mechanism
AI & Conversational Commerce
- Chatbot + AI meningkatkan engagement
- Tapi tidak otomatis meningkatkan trust
- COD tetap diperlukan di tahap akhir funnel
First-Party Data Economy
Brand ingin memiliki data sendiri dengan cara beralih ke D2C. Tapi kehilangan trust layer marketplace. Tapi COD bisa menggantikan fungsi tersebut
Tier 2 & 3 Market Expansion
- Growth terbesar terjadi di luar kota besar
- Cash masih dominan
- COD menjadi enabler utama ekspansi
Implikasi Strategis untuk Brand & Enterprise
Non-Marketplace adalah Masa Depan. Brand harus mulai:
- Membangun website (D2C)
- Mengembangkan social commerce
COD Harus Menjadi Core Strategy. Bukan optional: mandatory untuk conversion.
Gunakan COD sebagai Acquisition Tool. Strategi ideal:
Integrasi Omnichannel + COD. COD harus tersedia di:
- Website
- Landing page
Peran Logistik: The New Growth Engine
Dalam era ini, logistik tidak lagi sekadar pengiriman. Tetapi sebagai infrastructure untuk conversion & trust
Dalam konteks COD, logistik harus mampu:
- Cash handling
- Fraud mitigation
- Return management
- Real-time tracking
Tanpa sistem logistik yang matang, COD bisa menjadi liability, bukan asset
KiriminAja dalam Era Ini
Sejalan dengan perubahan industri, KiriminAja berada pada posisi strategis:
- Mendukung ekosistem non-marketplace & D2C
- Menyediakan multi-courier aggregation
- Mengelola COD end-to-end
Dalam roadmap-nya, KiriminAja fokus pada integrasi E-commerce solution dan Logistics solution.
Ini menunjukkan bahwa COD bukan hanya fitur, tetapi bagian dari ekosistem pertumbuhan brand.
Key Takeaways
- Non-marketplace akan mencapai hampir Rp 100 triliun di 2026
- Social commerce menjadi channel terbesar
- Trust menjadi tantangan utama di luar marketplace
- COD menjadi solusi utama untuk conversion
- Logistik adalah faktor pembeda utama
Masa Depan E-Commerce Indonesia Bukan Marketplace vs D2C

Melainkan bagaimana brand membangun ekosistem sendiri tanpa kehilangan trust. Dan jawabannya jelas bahwa COD + Logistik = Fondasi Pertumbuhan Baru.
Artikel Terkait


