Akses Cepat
- Apa Itu Form Purchase Order Barang?
- Kenapa Form PO Barang Penting, Bahkan Kalau Bisnis Anda Belum Punya Gedung 12 Lantai?
- Komponen yang Wajib Ada dalam Contoh Form PO Barang
- Contoh Form PO Barang Sederhana yang Bisa Disalin
- Contoh Form PO Barang untuk Berbagai Kebutuhan
- Studi Kasus: Salah Pesan yang Berawal dari Dua Kata
- Cara Membuat Form PO Barang yang Benar
- Jangan Lupa Memasukkan Biaya Logistik ke Perhitungan
- Tips Membuat PO Barang agar Tidak Menimbulkan Kesalahan
- Perbedaan PO Barang, Invoice, dan Surat Jalan
- Apakah PO Barang Harus Menggunakan Tanda Tangan?
- FAQ Seputar Contoh Form PO Barang
- Apa saja isi wajib dalam form PO barang?
- Apakah PO sama dengan invoice?
- Apakah UMKM perlu menggunakan PO?
- Bisakah contoh form PO barang dibuat di Excel?
- Kapan purchase order harus dibuat?
- Apakah purchase order dapat direvisi?
- Apakah satu supplier harus memiliki format PO berbeda?
- Apakah ongkir perlu dicantumkan dalam PO?
- Contoh Form PO Barang Bukan Soal Administrasi, tetapi Menghilangkan Tebak-tebakan

Ada fase dalam perjalanan sebuah bisnis ketika kalimat “seperti biasa, ya, Pak” masih terdengar efisien.
Supplier paham barangnya. Admin hafal jumlahnya. Pemilik usaha tahu harganya. Semua terasa seperti keluarga besar yang saling memahami tanpa perlu banyak dokumen.
Sampai suatu pagi datang 20 dus barang dengan ukuran yang salah.
Admin merasa tidak pernah memesannya. Supplier merasa sudah mengikuti instruksi. Pemilik bisnis kemudian membuka WhatsApp, menggulir percakapan tiga minggu ke belakang, dan mendapati bukti transaksi paling kuat yang dimiliki perusahaan hanyalah kalimat:
“Yang kemarin tambah 20, ya.”
Di titik itulah contoh form PO barang mulai terlihat bukan sebagai tambahan administrasi, melainkan alat pencegah drama.
Purchase order memang tidak akan membuat kopi kantor lebih enak atau supplier tiba-tiba memberikan diskon 50 persen. Namun, PO membuat satu hal yang sangat berharga dalam bisnis menjadi lebih jelas: siapa memesan apa, berapa jumlahnya, berapa harganya, dan kapan barang harus tiba.
Agar proses pengiriman lebih mudah dan biaya lebih terkendali, Anda dapat mulai menggunakan KiriminAja. Registrasi akun KiriminAja untuk mengelola pengiriman bisnis Anda dengan lebih praktis.
Jika proses pemesanan bisnis Anda masih tersebar antara WhatsApp, spreadsheet, dan ingatan admin, Anda juga dapat membaca panduan mengenai format pemesanan barang profesional agar alur transaksi lebih tertata sebelum volume pesanan semakin besar.
Apa Itu Form Purchase Order Barang?
Purchase order atau PO adalah dokumen yang diterbitkan pembeli kepada supplier untuk menyampaikan pesanan barang atau jasa secara formal.
Dalam praktik bisnis, PO berfungsi sebagai dokumen yang menjelaskan barang apa yang dipesan, jumlahnya, harga yang telah disepakati, tujuan pengiriman, hingga syarat pembayaran.
Sederhananya, PO adalah versi bisnis dari kalimat:
“Biar nanti tidak ada yang bilang, saya kira maksudnya begini.”
PO biasanya dibuat setelah detail pembelian disepakati dan sebelum supplier mengirim barang.
Secara sederhana, alurnya dapat terlihat seperti berikut:
Permintaan kebutuhan → quotation supplier → persetujuan → PO → pengiriman → invoice → pembayaran
Karena itu, PO berbeda dengan beberapa dokumen lain yang sering berada dalam satu folder dan akhirnya dianggap saudara kembar.
| Dokumen | Dibuat oleh | Fungsi Utama |
|---|---|---|
| Purchase Order | Pembeli | Mengonfirmasi pemesanan |
| Quotation | Supplier | Menawarkan barang dan harga |
| Invoice | Supplier | Menagih pembayaran |
| Surat Jalan | Supplier | Mendokumentasikan barang yang dikirim |
| Goods Receipt | Pembeli | Mencatat penerimaan barang |
PO berada di bagian awal transaksi. Dokumen ini memberi supplier acuan tertulis mengenai pesanan yang harus dipenuhi.
Kenapa Form PO Barang Penting, Bahkan Kalau Bisnis Anda Belum Punya Gedung 12 Lantai?
Ada anggapan bahwa purchase order hanya diperlukan perusahaan besar dengan divisi procurement, finance, purchasing, warehouse, dan rapat yang pesertanya lebih banyak daripada keputusan yang dihasilkan.
Padahal, UMKM pun bisa membutuhkannya.
Justru ketika sebuah usaha mulai mempunyai beberapa supplier, banyak SKU, transaksi berulang, dan lebih dari satu orang yang melakukan pembelian, komunikasi informal mulai menunjukkan kelemahannya.
Form PO barang dapat membantu bisnis untuk:
- mencatat detail pesanan secara tertulis;
- mengurangi risiko salah jumlah atau spesifikasi;
- mengontrol nilai pembelian;
- memonitor pesanan yang belum diterima;
- mencocokkan barang datang dengan pesanan;
- membandingkan PO dengan invoice;
- menyimpan histori transaksi supplier;
- mengurangi risiko pembelian tanpa persetujuan; dan
- mempermudah penelusuran transaksi ketika terjadi masalah.
Bayangkan Anda membeli 500 botol kemasan.
Tanpa PO, instruksinya mungkin hanya berbunyi:
“Botol 500 ml seperti kemarin.”
Masalahnya, supplier ternyata mempunyai tiga jenis botol 500 ml.
Mendadak kata “seperti kemarin” berubah menjadi teka-teki senilai beberapa juta rupiah.
Dokumen PO tidak menghilangkan seluruh kemungkinan kesalahan. Namun, setidaknya semua pihak mempunyai satu acuan yang sama.
Komponen yang Wajib Ada dalam Contoh Form PO Barang
Tidak ada gunanya membuat PO tiga halaman jika informasi paling penting justru hilang.
Format contoh form PO barang yang praktis setidaknya sebaiknya memiliki beberapa komponen berikut.
1. Nomor PO
Gunakan nomor unik untuk setiap purchase order.
Contohnya:
PO/OPS/08/2026/001
Nomor PO membuat dokumen lebih mudah dicari dan dilacak.
Ketika transaksi sudah mencapai ratusan dokumen, pencarian menggunakan kalimat “file yang dikirim Pak Budi bulan kemarin” bukan lagi sistem dokumentasi.
Itu kegiatan arkeologi.
2. Tanggal PO
Cantumkan tanggal penerbitan purchase order karena informasi tersebut akan berhubungan dengan jadwal pengiriman, periode transaksi, dan termin pembayaran.
3. Identitas Pembeli
Informasi pembeli dapat mencakup:
- nama perusahaan atau usaha;
- alamat;
- nomor telepon;
- email;
- NPWP jika diperlukan;
- nama PIC; dan
- informasi kontak terkait.
4. Identitas Supplier
Cantumkan data supplier atau vendor secara jelas, seperti:
- nama perusahaan;
- alamat;
- PIC;
- nomor telepon;
- email; dan
- informasi lain yang relevan dengan transaksi.
5. Detail Barang
Jangan hanya menulis:
Kaos hitam — 100 pcs.
Jika produk mempunyai banyak variasi, tambahkan informasi yang lebih spesifik seperti:
- SKU atau kode barang;
- merek;
- bahan;
- ukuran;
- warna;
- spesifikasi teknis;
- satuan; dan
- kuantitas.
Semakin tinggi nilai transaksi atau semakin khusus barang yang dipesan, semakin sedikit ruang yang sebaiknya diberikan kepada interpretasi.
6. Harga Satuan
Tuliskan harga setiap unit berdasarkan quotation atau kesepakatan dengan supplier.
Pastikan satuan pembeliannya juga jelas.
Harga Rp100.000 per unit tentu berbeda nasibnya dengan Rp100.000 per dus.
Satu kata yang hilang bisa membuat bagian finance mendadak ingin mengadakan rapat.
7. Total Nilai Transaksi
Pisahkan komponen berikut apabila relevan:
- subtotal;
- diskon;
- pajak;
- biaya pengiriman;
- biaya tambahan; dan
- grand total.
Ini penting karena biaya kecil yang tidak terlihat pada awal transaksi dapat memengaruhi margin bisnis.
Anda dapat membaca pembahasan KiriminAja mengenai cara menghitung margin setelah biaya logistik untuk memahami bagaimana biaya pengiriman dapat ikut memengaruhi keuntungan.
8. Alamat Pengiriman
Jangan berhenti pada informasi seperti:
Gudang Bandung.
Tuliskan alamat pengiriman secara jelas, lengkap dengan PIC penerima dan nomor kontak jika diperlukan.
Bisnis sering mempunyai lebih dari satu gudang, kantor, toko, atau cabang. Supplier tidak seharusnya diminta bermain tebak lokasi.
9. Jadwal Pengiriman
Tuliskan kapan barang harus dikirim atau paling lambat diterima.
Contoh:
Barang harus diterima maksimal tanggal 5 September 2026.
Tanggal yang spesifik lebih aman dibanding kalimat seperti:
Secepatnya, ya.
Kata “secepatnya” memiliki definisi yang sangat fleksibel ketika dibaca oleh orang berbeda.
10. Termin Pembayaran
Contohnya:
Pembayaran dilakukan 30 hari setelah invoice diterima.
Atau:
DP 30% setelah PO diterbitkan dan pelunasan 70% setelah barang diterima.
11. Catatan Tambahan
Bagian ini dapat digunakan untuk menuliskan syarat khusus, misalnya:
- standar kualitas;
- warna;
- ukuran;
- garansi;
- toleransi jumlah;
- standar kemasan; atau
- prosedur jika barang tidak sesuai.
12. Otorisasi
Cantumkan pihak yang membuat dan menyetujui purchase order sesuai prosedur perusahaan.
Persetujuan dapat berupa tanda tangan manual maupun mekanisme digital sesuai sistem yang digunakan bisnis.
Contoh Form PO Barang Sederhana yang Bisa Disalin
Berikut contoh form PO barang sederhana yang dapat Anda pindahkan ke Word, Excel, atau Google Sheets.
PURCHASE ORDER / PO BARANG
Nomor PO: PO-2026-001 Tanggal: 28 Agustus 2026
Data Supplier
Supplier: PT Supplier Makmur Alamat: Jl. Industri No. 25, Jakarta PIC: Budi Santoso Telepon: 08xx-xxxx-xxxx
Data Pemesan
Pemesan: PT Maju Bersama Alamat Kirim: Jl. Niaga No. 10, Bandung PIC: Andi Pratama Telepon: 08xx-xxxx-xxxx
Detail Pesanan
| No. | Nama Barang | Kode Barang | Qty | Satuan | Harga Satuan | Total |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Kertas HVS A4 80 gsm | ATK-001 | 50 | Rim | Rp55.000 | Rp2.750.000 |
| 2 | Tinta Printer Hitam | ATK-002 | 10 | Unit | Rp180.000 | Rp1.800.000 |
Subtotal: Rp4.550.000 PPN: Rp500.500 Total Pesanan: Rp5.050.500
Syarat Pembayaran: Tempo 30 hari setelah invoice diterima Jadwal Pengiriman: Maksimal 7 hari kerja setelah PO diterima
Catatan: Barang harus dalam kondisi baru dan sesuai spesifikasi yang tercantum dalam purchase order.
Persetujuan
Disetujui oleh: Nama: __ Jabatan: __ Tanggal: __ Tanda tangan: _
Format tersebut tidak harus memenangkan lomba desain.
Tugas utamanya hanya satu:
membuat transaksi sulit disalahartikan.
Contoh Form PO Barang untuk Berbagai Kebutuhan
Tidak semua bisnis memerlukan format purchase order yang sama.
PO untuk toko kecil tentu tidak harus serumit purchase order perusahaan manufaktur dengan puluhan tahapan approval.
Contoh PO Barang untuk UMKM
Format PO untuk UMKM dapat dibuat lebih sederhana.
Informasi utamanya cukup meliputi:
- identitas usaha;
- data supplier;
- nomor PO;
- tanggal transaksi;
- detail barang;
- jumlah;
- harga;
- total transaksi;
- alamat pengiriman;
- termin pembayaran; dan
- persetujuan.
Format seperti ini cocok digunakan untuk pembelian:
- stok toko;
- bahan baku;
- kemasan;
- perlengkapan usaha;
- bahan produksi; atau
- kebutuhan operasional.
Contoh PO Barang untuk Perusahaan
Perusahaan biasanya membutuhkan informasi yang lebih formal.
Purchase order dapat dilengkapi dengan:
- nomor PO;
- NPWP;
- departemen pemesan;
- cost center;
- kode proyek;
- termin pembayaran;
- ketentuan pajak;
- alamat gudang;
- nomor quotation; dan
- persetujuan berjenjang.
Contoh PO Barang untuk Pembelian Proyek
Untuk kebutuhan proyek, PO perlu dibuat lebih detail karena keterlambatan satu barang dapat memengaruhi pekerjaan lain.
Tambahkan informasi seperti:
- nomor proyek;
- lokasi proyek;
- cost center;
- spesifikasi teknis;
- jumlah;
- tenggat pengiriman;
- standar penerimaan barang; dan
- PIC lapangan.
Contoh PO Barang dengan Uang Muka
Jika transaksi menggunakan uang muka atau DP, nilainya perlu dicantumkan secara eksplisit.
Contoh:
Nilai transaksi: Rp50.000.000 DP 30%: Rp15.000.000 Pelunasan 70%: Rp35.000.000 setelah barang diterima dan dinyatakan sesuai.
Jangan biarkan kalimat “DP seperti biasa” hidup terlalu lama dalam dokumen bernilai puluhan juta rupiah.
Studi Kasus: Salah Pesan yang Berawal dari Dua Kata
Kesalahan purchase order sering tidak dimulai dari masalah besar.
Kadang penyebabnya hanya dua kata yang terlalu percaya diri.
Situasi
Sebuah toko perlengkapan rumah rutin membeli 200 kardus kemasan setiap bulan.
Harga kardus yang biasa digunakan adalah:
Rp8.000 per unit
Nilai pembelian normal:
200 × Rp8.000 = Rp1.600.000
Pada suatu hari, persediaan hampir habis.
Admin menghubungi supplier melalui WhatsApp dan menulis:
“Tambah 100 yang besar.”
Masalah
Supplier mempunyai beberapa ukuran kardus.
Ia menafsirkan “yang besar” sebagai kardus ukuran paling besar dengan harga Rp12.000 per unit.
Supplier kemudian mengirim 100 kardus.
Nilai transaksi:
100 × Rp12.000 = Rp1.200.000
Padahal admin sebenarnya bermaksud memesan tambahan ukuran sebelumnya yang harganya Rp8.000 per unit.
Penyebab
Tidak ada informasi mengenai:
- kode barang;
- ukuran;
- spesifikasi;
- harga;
- quotation; atau
- PO yang menjadi acuan bersama.
Admin merasa supplier salah.
Supplier merasa sudah mengikuti instruksi.
Keduanya punya argumen.
Dan biasanya pada tahap ini kalimat “kan saya sudah bilang” mulai mendapat jam kerja tambahan.
Solusi
Perusahaan kemudian menggunakan purchase order dengan detail:
Kode barang: KDS-L-40X30 Nama barang: Kardus 40 × 30 cm Jumlah: 100 pcs Harga: Rp8.000/pcs Total: Rp800.000
Tidak ada teknologi spektakuler.
Tidak ada sistem dengan 27 dashboard.
Hanya informasi yang lebih jelas.
Jika bisnis Anda masih banyak menerima pesanan melalui chat, penggunaan form order barang online shop juga dapat membantu mengurangi risiko data pelanggan atau detail pesanan tercecer.
Cara Membuat Form PO Barang yang Benar
PO yang baik bukan purchase order yang paling panjang.
PO yang baik adalah dokumen yang membuat orang berbeda membaca transaksi dengan pemahaman yang sama.
Berikut langkah yang dapat digunakan.
1. Tentukan Nomor PO
Buat sistem penomoran yang konsisten.
Contoh:
PO/PROC/2026/0089
Hindari nomor yang dibuat sembarangan karena akan menyulitkan pencarian ketika volume transaksi meningkat.
2. Isi Data Pembeli dan Supplier
Periksa kembali nama perusahaan, alamat, kontak, dan PIC.
Kesalahan sederhana pada data supplier dapat menyebabkan PO dikirim kepada orang yang salah atau barang dikirim ke lokasi yang keliru.
3. Cocokkan Detail Barang dengan Quotation
Gunakan quotation yang sudah disepakati sebagai referensi.
Pastikan:
- nama barang;
- SKU;
- spesifikasi;
- jumlah;
- satuan; dan
- harga
sudah sama.
4. Periksa Nilai Transaksi
Hitung kembali:
- kuantitas;
- harga satuan;
- subtotal;
- diskon;
- pajak;
- ongkir; dan
- total akhir.
Jangan menyerahkan seluruh optimisme matematika kepada fitur autosum.
Spreadsheet memang jarang protes, tetapi angka yang salah tetap akan dihitung dengan sangat patuh.
5. Tentukan Alamat Pengiriman
Pastikan barang dikirim ke lokasi yang benar.
Jika perusahaan mempunyai beberapa gudang atau cabang, alamat tujuan harus disebutkan secara lengkap.
6. Cantumkan Jadwal Pengiriman
Gunakan tanggal yang jelas.
Contoh:
Barang diterima paling lambat 10 September 2026.
Ini lebih aman daripada:
Dikirim minggu depan.
7. Tuliskan Termin Pembayaran
Misalnya:
- COD;
- DP 30%;
- tempo 14 hari;
- tempo 30 hari;
- pembayaran setelah barang diterima; atau
- pembayaran berdasarkan termin proyek.
8. Tambahkan Syarat Khusus
Jika kualitas barang penting, tuliskan kriterianya.
Jika warna harus persis sesuai sampel, tuliskan.
Jika kemasan tidak boleh rusak, tuliskan.
Jika supplier harus menyertakan dokumen tertentu, tuliskan.
Hal yang dianggap “sudah sama-sama tahu” sering menjadi bagian pertama yang diperdebatkan saat masalah muncul.
9. Minta Persetujuan
Pastikan purchase order melewati proses approval sesuai kewenangan perusahaan.
Tujuannya bukan menambah birokrasi, melainkan mencegah pembelian yang tidak diketahui pihak terkait.
10. Kirim PO dan Simpan Salinannya
Kirim purchase order kepada supplier melalui kanal resmi yang digunakan perusahaan.
Simpan dokumen secara sistematis.
Contoh struktur nama file:
PO-2026-0089-PT-Supplier-Makmur.pdf
Lebih baik daripada:
PO Baru Final Revisi Fix Banget.pdf
11. Cocokkan Saat Barang Datang
Ketika supplier mengirim barang, lakukan pencocokan antara:
PO → barang fisik → surat jalan → invoice
Ini membantu perusahaan memastikan bahwa apa yang dibayar sama dengan apa yang dipesan dan diterima.
Jangan Lupa Memasukkan Biaya Logistik ke Perhitungan
Purchase order sering sangat detail ketika membahas harga produk, tetapi mendadak santai ketika sampai pada ongkir.
Padahal biaya logistik dapat ikut menentukan margin transaksi.
Misalnya:
Harga barang: Rp10.000.000 Ongkir: Rp600.000 Biaya packing tambahan: Rp150.000
Total biaya pengadaan sebenarnya bukan Rp10 juta, melainkan:
Rp10.750.000
Selisih Rp750.000 mungkin terlihat kecil dalam satu transaksi.
Namun, jika pembelian seperti itu dilakukan sepuluh kali setiap bulan, nilainya menjadi:
Rp7.500.000 per bulan
Biaya kecil memang mempunyai bakat unik: terlihat sopan ketika datang sendiri, lalu membuat kejutan ketika dikumpulkan di laporan bulanan.
Untuk bisnis dengan volume distribusi tinggi, Anda dapat membaca struktur biaya logistik untuk bisnis online agar biaya pengadaan dan distribusi dapat dihitung dengan lebih realistis.
Tips Membuat PO Barang agar Tidak Menimbulkan Kesalahan
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membuat purchase order jauh lebih aman.
Gunakan Nomor PO yang Konsisten
Nomor PO mempermudah pencarian, audit, dan komunikasi dengan supplier.
Hindari Deskripsi Barang Terlalu Umum
Daripada:
Botol plastik.
Lebih baik:
Botol PET 500 ml bening, tutup putih, SKU BOT-500-BNG.
Pastikan Satuan Jelas
Tuliskan apakah produk dihitung:
- unit;
- pcs;
- dus;
- karton;
- kilogram;
- liter;
- meter;
- rim; atau
- pack.
Pisahkan Komponen Harga
Jangan menggabungkan seluruh biaya dalam satu angka jika perusahaan membutuhkan transparansi.
Pisahkan:
Subtotal + Pajak + Ongkir + Biaya Tambahan = Grand Total
Gunakan Tanggal Pengiriman yang Spesifik
Tanggal spesifik mengurangi perbedaan interpretasi.
Jangan Mengubah Pesanan Hanya Melalui Chat
Jika ada perubahan jumlah, spesifikasi, harga, atau jadwal, lakukan revisi PO.
Chat dapat digunakan untuk komunikasi.
Namun, dokumen resmi tetap perlu diperbarui.
Gunakan Nomor Revisi
Contohnya:
PO-2026-001 Rev.01
Ini membantu supplier mengetahui dokumen terbaru yang harus digunakan.
Simpan Dokumen Secara Digital
Gunakan struktur folder berdasarkan:
- tahun;
- bulan;
- supplier;
- departemen; atau
- proyek.
Sistem sederhana yang digunakan secara konsisten biasanya lebih berguna daripada sistem rumit yang hanya dipahami satu orang.
Perbedaan PO Barang, Invoice, dan Surat Jalan
Salah satu kebingungan yang sering terjadi adalah menganggap purchase order, invoice, dan surat jalan sebagai dokumen dengan fungsi yang sama.
Padahal ketiganya muncul pada tahapan berbeda.
| Dokumen | Penerbit | Tujuan | Waktu Dibuat |
|---|---|---|---|
| Purchase Order | Pembeli | Memesan barang kepada supplier | Sebelum barang dikirim |
| Invoice | Supplier | Menagih pembayaran | Setelah atau bersamaan dengan pengiriman |
| Surat Jalan | Supplier | Bukti barang dikirim | Saat pengiriman |
| Goods Receipt | Pembeli | Mencatat barang diterima | Saat penerimaan |
Cara paling sederhana memahaminya:
PO berkata: “Saya memesan ini.”
Surat jalan berkata: “Barang ini dikirim.”
Goods receipt berkata: “Barang ini sudah diterima.”
Invoice berkata: “Sekarang waktunya membayar.”
Empat dokumen.
Empat fungsi.
Satu transaksi yang jauh lebih mudah ditelusuri.
Apakah PO Barang Harus Menggunakan Tanda Tangan?
Tidak semua bisnis harus menggunakan tanda tangan basah pada purchase order.
Yang lebih penting adalah adanya bukti otorisasi sesuai prosedur perusahaan.
Persetujuan dapat dilakukan melalui:
- tanda tangan manual;
- tanda tangan elektronik;
- email perusahaan;
- sistem procurement;
- sistem ERP; atau
- approval digital lainnya.
Namun, bukti persetujuan perlu disimpan.
Hal ini penting terutama ketika ada:
- perubahan pesanan;
- perselisihan harga;
- pembatalan;
- audit;
- perbedaan barang; atau
- pertanyaan mengenai siapa yang menyetujui transaksi.
FAQ Seputar Contoh Form PO Barang
Apa saja isi wajib dalam form PO barang?
Secara umum, form PO barang sebaiknya memuat:
- nomor PO;
- tanggal;
- data pembeli;
- data supplier;
- detail barang;
- jumlah;
- harga;
- total transaksi;
- alamat pengiriman;
- jadwal pengiriman;
- termin pembayaran; dan
- persetujuan.
Apakah PO sama dengan invoice?
Tidak.
PO dibuat oleh pembeli sebagai dokumen pemesanan.
Invoice dibuat oleh supplier atau penjual untuk menagih pembayaran.
Apakah UMKM perlu menggunakan PO?
Ya, terutama apabila pembelian stok dilakukan rutin, nilai transaksinya cukup besar, atau bisnis sudah bekerja dengan beberapa supplier.
PO membantu UMKM mengendalikan pesanan dan pengeluaran.
Bisakah contoh form PO barang dibuat di Excel?
Bisa.
Excel atau Google Sheets sangat cocok untuk membuat PO sederhana karena dapat menggunakan formula otomatis untuk menghitung:
- subtotal;
- diskon;
- pajak; dan
- grand total.
Kapan purchase order harus dibuat?
PO sebaiknya dibuat setelah harga, jumlah, spesifikasi, dan ketentuan pembelian disepakati, tetapi sebelum supplier mengirim barang.
Apakah purchase order dapat direvisi?
Bisa.
Jika terdapat perubahan jumlah, harga, spesifikasi, atau jadwal pengiriman, buat versi revisi yang jelas.
Hindari hanya mengirim perubahan melalui chat tanpa memperbarui dokumen resmi.
Apakah satu supplier harus memiliki format PO berbeda?
Tidak selalu.
Bisnis dapat menggunakan satu template PO standar untuk berbagai supplier selama format tersebut mampu menampung informasi yang dibutuhkan.
Apakah ongkir perlu dicantumkan dalam PO?
Jika ongkir menjadi bagian dari biaya transaksi yang disepakati dengan supplier, sebaiknya dicantumkan secara jelas.
Hal ini membantu perusahaan mengetahui total biaya pembelian secara lebih akurat.
Untuk bisnis yang melakukan pengiriman rutin, Anda juga dapat mempelajari cara menghemat ongkir untuk pengiriman rutin agar biaya distribusi tidak diam-diam memakan margin.
Contoh Form PO Barang Bukan Soal Administrasi, tetapi Menghilangkan Tebak-tebakan
Pada akhirnya, contoh form PO barang bukan menarik karena tabelnya rapi.
Nilainya muncul ketika bisnis mulai mempunyai banyak transaksi dan setiap kesalahan mulai mempunyai harga.
Satu digit jumlah barang yang keliru, satu ukuran yang tidak ditulis, atau satu kesepakatan yang hanya tersimpan dalam chat mungkin terlihat kecil.
Namun, bisnis tumbuh dari pengulangan.
Kesalahan kecil yang ikut diulang akan tumbuh bersama bisnis.
Karena itu, buat PO sesederhana yang Anda butuhkan, tetapi selengkap yang transaksi Anda perlukan.
Cantumkan barang dengan jelas. Gunakan kode produk jika diperlukan. Tuliskan harga, ongkir, alamat, jadwal pengiriman, pembayaran, dan persetujuan secara transparan.
Administrasi yang baik bukan pekerjaan tambahan.
Sering kali justru itulah yang mencegah pekerjaan tambahan muncul belakangan.
Jika Anda ingin proses pengiriman lebih sederhana, transparan, dan membantu mengontrol biaya logistik, registrasi akun KiriminAja sekarang dan mulai kelola pengiriman bisnis Anda dengan lebih efisien.
Artikel Terkait
Satu Solusi untuk Semua #PastiAman
Pengiriman paket jadi mudah!
Jadikan pengalaman pengiriman paket lebih sat-set dengan dukungan banyak ekspedisi serta layanan yang handal KiriminAja.












